Ceritanya ini sedang belajar menanam padi. Kebetulan dapat benih yang cukup bagus dari seorang teman. Konon bibit ini berasal dari Bapak Dr. Ir. Haryadi, dari Universitas Brawijaya. Dengan penuh semangat saya coba menggarap sebuah lahan yang tidak terlalu luas. Lumayan, bisa untuk kesibukan di sore hari selepas pulang dari kantor.  Di kampung saya kebanyakan petani padi masih menggunakan cara konvensional dalam pengelolaan padi.

Pada kali pertama saya membudidayakan padi ini saya mengikuti pola budidaya berdasarkan saran dari teman-teman dan informasi dari internet. Tentu saja ala kadarnya. Untuk penyemaian bibit tidak ada masalah. Ketika tiba waktunya untuk menanam ternyata ada kendala. Saya tanam benih padi dalam usia 17 hari setelah sebar. Bibitnya belum terlalu besar. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan dari awal.  Di kampung saya, para petani lebih senang menanam benih padi yang agak berumur, sekiatar 21 hari setelah sebar. Saya memilih pola tanam jajar legowo 1 : 4, namun ternyata para penanam kesulitan karena belum pernah menanam dengan pola jajar legowo. Pola ubinlah yang menjadi andalan dan tumpuan selama bertahun-tahun. Namun setalah melalui berbagi dinamika akhirnya legowo 4 : 1 terwujud, meski pada petak pertama masih ada yang 7, ada yang 5. Namun pada petak kedua dan seterusnya sudah sesuai harapan, yaitu pola 4 : 1. Disamping kesulitan penerapan pola tanam, ternyata masih muncul permasalahan baru. Mereka masih kesulitan harus menanam sesuai permintaan saya, yaitu dua atau tiga batang per rumpun. Saya sih pinginnya tanam satu satu, namun saya pandang tidak mungkin, jadi saya minta tanam 2 – 3 batang per lubang. Tetapi ternyata itupun masih kesulitan, akhirnya saya mengalah dan mengiyakan mereka menanam seperti kebiasaan yang sudah ada. Jadilah per lubang berkisar antara 5 – 7 batang.  Untungnya saya menebar benih cukup banyak sehingga bisa cukup. Bisa dibayangkan, saya menebar benih 10 kg, hanya cukup untuk lahan seluas siring gering, sekitar 1100 m2. Asyiknya pengalaman pertama. Beruntung, selama masa perkembangannya padi yang saya pelihara tidak terkena serangan hama. Lancar-lancar saja. Meski lahan sebelah banyak yang terserang sundep atau hama lainnya. Kebetulan juga lokasinya tidak kesulitan air. Sayang yang ke sekian kalinya pada pemupukan pertama terjadi kesalahan juga. Perbandingan pupuk urea dan Ponska mestinya 2 : 3, saya kebalik 3 : 2. Alhasil padi jadi, katanya, kelebihan unsur N. Dan kelebihan unsur N beresiko terhadap timbulnya jamur.

Ini hasilnya. Sebenarnya saya mulai mengambil gambar saat tanaman padi masih kecil, namun sayang file nya menghilang. Ini gambar pada saat padi berumur 43 hari.

43 hr

 Di lingkungan saya tanaman padi saya tergolong yang perkembangannya bagus. Namun perkembangan berikutnya padi mulai terserang hama. Ada beberapa yang terkena beluk, dan yang paling menyulitkan saya adalah hama busuk leher, atau tekek, atau apalah namanya. Padi yang sudah mulai berisi, meski belum penuh, tiba-tiba busuk di bagian pangkal buah atau batang bagian atas. Konon penyakit ini disebabkan oleh jamur. Ini antara lain karena, salah satunya, kelebihan unsur N, disamping sanitasi lingkungan yang kurang baik. Ada juga lembing. Kalau yang begini entah apa namanya, muncul juga.

Photo1016

Ini ada gambar lainnya. Saat gambar diambil usia tanaman 74 hari.

Photo1008

 

Photo1009Photo1011

 

Photo1018

Kalau saja perawatan dan cuaca bagus produksi dari bibit ini bisa bagus juga. Lihat saja . Malainya panjang. Anakan juga tidak sedikit.  Semoga saat panen nanti tidak keduluan hama dan penyakit, terutama jamur penyebab busuk leher.

Ini batang padi yang terkena busuk leher.

Photo1032.jpg

Memang hasil padi kali ini kurang maksimal, tapi saya bertekad untuk memilih dan kemudian menyimpannya untuk keperluan pembibitan yang akan datang. Kalau tidak salah padi ini disebut Inovasi Indonesia Ridho Ilahi 400 (IIRI 400), sehingga sifat bibitnya sudah bagus. Kalau sekarang belum maksimal, saya yakin bibit masih mempunyai sifat yang sama dengan bibit sebelumnya karena padi ini tidak tergolong hibrida. Dengan malai yang bisa mencapai lebih dari 400 butir gabah per malainya, tentu potensi hasilnya juga bagus, apalagi dengan pengelolaan dan pemeliharaan yang lebih baik di masa  yang akan datang. Gambar di atas adalah malai yang terserang busuk leher, jumlah butirannya lebih dari 350. Kalau bisa mengatasi busuk leher dan lembing, masih ada peluang untuk hasil yang melimpah. Semoga saja.